Kamis, 31 Oktober 2013

Keistimewaan Angka 7



Keistimewaan Angka 7

Angka 7 merupakan bilangan istimewa, karena tanpa kita sadari angka 7 mempunyai makna yang sangat dalam. Ada yang mempercayai bahwa angka 7 adalah angka keberuntungan. Angka 7 makin beken karena David Beckham, Raul Gonzalez dan Cristiano Ronaldo bernomor punggung angka 7 di seragam sepakbolanya.
1.      Ada 7 hari dalam satu minggu : Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu
2.      Not dasar pada musik jumlahnya ada 7 : do-re-mi-fa-so-la-si
3.      Bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan sebagaimana dinyatakan Al-Quran dalam penciptaan lapisan langit bumi atau yang disebut atmosfer yang berjumlah 7 lapis yaitu : Troposfer, Stratosfer, Ozonosfer, Mesosfer, Termosfer, Ionosfer, Eksosfer.
4.      Kedudukan atom tersusun dari tingkatan 7 elektron atau di sebut bilangana kuantum:
n      1 2  3  4  5  6  7
kulit K L M N O P Q
5.      Jumlah warna pelangi ada 7 : merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.
6.      Ada 7 pemenang New7Wonders : Amazon (Brazil), Halong Bay (Vietnam), Iguazu Falls (Argentina), Pulau Jeju (Korea), Komodo (Indonesia), Puerto Princesa Underground River (Philippines), Table Mountain (Afrika Selatan).

Source : http://www.memobee.com/keistimewaan-angka-7-1789-eij.html

Senin, 28 Oktober 2013

MAHASISWA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL



MAHASISWA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL
Penggagasan terhadap terminologi perguruan tinggi tidak akan bisa dilepaskan dari suplemen utama, yaitu mahasiswa. Stigma yang muncul dalam diskursus perguruan tinggi selama ini cenderung berpusat pada kehidupan mahasiswa. Hal ini sebagai konsekuensi logis agresivitas mereka dalam merespon gejala sosial daripada kelompok lain dari sebuah sistem civitas akademika.
Akan tetapi fenomena yang berkembang menunjukkan bahwa derap modernisasi di Indonesia dengan pembangunan sebagai ideologinya telah memenjarakan mahasiswa dalam sekat insitusionalisasi, transpolitisi dan depolitisi dalam kampus. Keberhasilan upaya dengan dukungan penerapan konsep NKK/BKK itu, pada sisi lain mahasiswa dikungkung dunia isolasi hingga tercabut dari realitas sosial yang melingkupinya. Akibatnya, mahasiswa mengalami kegamangan atas dirinya maupun peran-peran kemasyarakatan yang semestinya diambil. Mahasiswa pun tidak lagi memiliki kesadaran kritis dan bahkan sebaliknya bersikap apolitis.
Melihat realitas seperti itu maka perlu ditumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa dalam merespon gejala sosial yang dihadapinya, karena disamping belum tersentuh kepentingan praktis, mahasiswa lebih relatif tercerahkan (well informed) dan potensi sebagai kelompok dinamis yang diharapkan mampu mempengaruhi atau menjadi penyuluh pada basis masyarakat baik dalam lingkup kecil maupun secara luas. Dengan tataran ideal seperti itu, semestinya mahasiswa mahasiswa dapat mengambil peran kemasyarakatan yang lebih bermakna bagi kehidupan kampus dan masyarakat.
A.    MAHASISWA SEBAGAI “AGENT OF CHANGE
Sejak dahulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan dan dalam setiap kabangkitan dan dalam setiap kebangkitan pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Preseiden RI pertama ir. Soekarno sebagai tokoh naionalis juga telah melakukan pembenaran terhadap urgensitas pemuda dalam sebuah kebangkitan dengan pernyataannya yang mengatakan bahwa “berikan kepadaku seratus orang tuo akan kugoncangkan Indonesia, dan berikan kepadaku sepuluh pemuda saja akan kugoncangkan dunia”. Pernyataan itu sekaligus memberikan pemahaman dan keyakinan kepada kita bahwa pada hakekatnya masa depan suatu bangsa terletak ditangan pemuda.
Seperti yang telah dikemukakan di atas bahwa perjalanan suatu bangsa dalam konteks peradaban tidak lepas dari lakon gerakan pemuda. Gerakan pemuda dimanapun di dunia ini sangat menentukan kemajuan suatu bangsa, karena apabila suatu bangsa memiliki generasi muda yang berkepribadian luhur, mempunyai kualitas iman dan ilmu, maka bangsa inilah dimasa yang akan datang memegang kendali dan bukan tidak mungkin akan menguasai peradaban.
Mahasiswa sebagai simbol dari kehidupan pemuda dengan corak kebudayaan yang otonom dengan sendirinya akan membedakan dirinya dengan masyarakat lainnya. Mahasiswa adalah kelompok lapisan masyarakat yang dalam jajaran stratifikasi sosial memiliki kelas khusus. Kalau diperbincangkan senantiasa menjadi tema menarik dan aktual. Betapa tidak, ketika oran menyentuh sebuah pergerakan transformasi sosial, maka sadar atau tidak, langsung berkorelasi dengan dinamika kehidupan mahasiswa, sehingga dalam konteks kesejarahan setiap perubahan yang terjadi pada setiap Negara dibelahan dunia yang berorientasi pada perbaikan, mahasiswa terdokumentasi dengan tinta emas. Dari kondisi tersebut, maka sangatlah pantas jika dikemudian hari mahasiswa mendapat anjungan heroik : “mahasiswa adalah hati nurani masyarakat, mahasiswa adalah pemimpin dimasa yang akan datang, dan sebagainya”. Sehingga mungkin berlebihan kalau dikatakan : “mahasiswa ibarat dewa penyelamat” yang berjasadkan kebenaran, keadilan dan kejujuran.
Simbol kemahasiswaan yang melekat pada dirinya akan membawa cirri khas tersendiri untuk tampil di tengah-tengah masyarakat. Hal ini terjadi karena dalam diri mahasiswa akan dilekatkan berbagai stigma. Piramida Maslow dalam posisi yang ideal dimana mahasiswa tersebut menjadi jembatan atas aspirasi dari kaum akar rumput (masyarakat bawah) dengan penentu kebijakan yaitu kaum elitis. Oleh karena itu, jelas bahwa keberadaan mahasiswa di sebuah perguruan tinggi mengemban tanggung jawab sosial dari masyarakat. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah seperti apa tanggung jawab yang harus diemban oleh mahasiswa?
Posisi seorang mahasiswa sangatlah strategis untuk dimanfaatkan, dimana mahasiswa mempunyai peluang untuk menjadi salah satu control power terhadap kebijakan-kebijakan kaum elitis dalam memberikan respon terhadap aspirasi masyakat awam. Sangat dipahami bahwa terkadang kebijakan elitis yang lahir tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Terhadap fenomena ini, mahasiswa harus muncul sebagai penjembatan dan berfungsi sebagai Social Control (control sosial), Agent Of Change (Insan Pembaharu/Perubahan), dan Change Of Development. Perlu di ingat bahwa tanggungjawab sosial mahasiwa dalam mengontrol berbagai kebijakan elitis bukan hanya pada aspek politis, akan tetapi lebih dari itu mahasiswa harus mampu mengakomodir dan memberikan respon secara general terhadap keseluruhan peraturan dalam berbagai aspek kehidupan.
Mahasiswa haruslah peka dan senantiasa tanggap terhadap setiap kebijakan yang ada, termasuk isu akan diberlakunya Undang-Undang BHP di Perguruan Tinggi. Namun tafsiran peran dan fungsi tersebut mengalami kekeliruan. Aspirasi kepentingan selalu disalurkan dalam bentuk demonstrasi dan terkesan anarkis. Gerakan dalam rangka pembaharuan dan perubahan kebijakan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat adalah sesuatu yang sah, akan tetapi satu hal yang perlu di ingat oleh mahasiswa adalah bahwa dalam menyampaikan aspirasi harus senatiasa berdasarkan pada azas logika, etika dan estetika.
Secara keseluruhan, tidak semua mahasiswa bisa mengemban tanggung jawab sosial seperti yang telah dikemukakan di atas. Penyebabnya adalah karena karakteristik dari setiap mahasiswa itu berbeda-beda. Dalam kategorisasi karakter mahasiswa, sekurang-kurangnya terdapat tiga jenis mahasiwa, antara lain;
1.      Mahasiswa Passifis, adalah bentuk mahasiswa yang tidak mau peduli terhadap orang lain, cenderung cuek dan apatis,
2.      Mahasiswa Akademis, adalah mahasiwa yang menggunakan parameter keberhasilan dengan angka dan nilai (IPK) yang tinggi, selesai kuliah dengan cepat, sehingga waktunya dihabiskan untuk kuliah secara monoton tanpa menimbulkan simpati dan empati dalam dirinya terhadap orang lain dan realitas eksternal mereka. Jenis mahasiswa ini setelah menyelesaikan studinya sering disebut sebagai “sarjana karbitan”; dan
3.      Mahasiswa Aktifis, adalah mahasiswa yang kehadirannya dalam sebuah perguruan tinggi bukan semata-mata menjadi pecundang-pecundang mata kuliah denga akreditasi “Cumlaude”. Akan tetapi mereka mempunyai kepedulian terhadap realitas eksternal mereka, tanpa meninggalkan tugas utamanya sebagai mahasiswa (kuliah).
Dari ketiga karakter mahasiwa tersebut diatas, maka sudah sangat jelas bahwa mahasiswa yang akan mampu memegang amanah menjalankan tanggung jawab sosial adalah mereka yang termasuk dalam komunitas mahasiswa aktifis. Hal ini disebabkan karena adanya kesadaran mereka untuk memposisikan diri bukan semata-mata sebagai seorang egaliter yang sangat egois terhadap status yang melekat pada dirinya sebagai mahasiswa yang harus dilayani oleh orang tuanya dan masyarakat yang memberikan amanah kepada mereka. Akan tetapi lebih dari itu seorang aktifis mampu memadukan antara kepentingan dirinya sebagai aksentuasi dari amanah orang tuanya dengan realitas di luar dirinya.
B.     PERAN STRATEGIS MAHASISWA
Dalam proses perubahan sosial dan kebudayaan mahasiswa memiliki posisi dan peranan yang essensial. Ia sebagai transformator nilai-nilai dari generasi terdahulu ke generasi berikutnya dan merintis perubahan dalam rangka dinamisasi kehidupan dalam peradaban yang sedang berjalan. Kalau kita percaya masa kini adalah proses masa lalu yang mendapat pengaruh dari cita-cita masa depan, maka kedudukan dan peranan mahasiswa sebagai transformator nilai dan inovator dari perkembangan yang berorientasi ke masa depan, jelas pada bahwa mahasiswa harus menjadi semangat yang hidup dalam nilai-nilai ideal, dan membangun subkultur serta berani memperjuangkan.
Sebagai langkah taktis dan preferensi pengembangan ke depan, mahasiswa harus memiliki 4 kekuatan :
1.      Kekuatan Moral
2.      Kekuatan Kontrol Sosial
3.      Kekuatan Intelektual
4.      Kekuatan Profesional
Oleh karena itu mahasiswa harus berani mengambil peran-peran strategis tersebut di atas. Sebagai kekuatan moral dan Kontrol sosial, mahasiswa harus mampu bersentuhan dengan aksi-aksi pembelaan kaum tertindas. Pada tataran mikro secara aktif menjadi kelompok penekan (pressure group) terhadap kebijakan refresif di tingkat kampus. Pada tingkat makro, mampu melakukan advokasi terhadap masyarakat yang terpinggirkan seperti nelayan, buruh, petani, anak jalanan, dan PSK.
Mahasiswa sebagai kekuatan intelektual harus mampu melakukan pengembangan dan pembangunan komunitas intelektual (intellectual community) dengan melakukan kajian-kajian strategis dan membentuk kelompok-kelompok studi sebagai sebagai basis pembentukan reading and intellectual society serta penciptaan kultur akademis dengan menciptakan hubungan yang egaliter antara dosen dan mahasiswa.
Sebagai bagian dari intellectual community mahasiswa menduduki posisi yang strategis dalam keterlibatannya melakukan rekayasa sosial menuju independensi masyarakat, dalam aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam posisinya sebagai komunitas terdidik, mahasiswa merupakan salah satu kunci penentu dalam transformasi menuju keadilan dan kemakmuran bangsa, di samping dua kelompok strategis lainnya yaitu kaum agamawan dan masyarkat sipil (Madani) yang mempunyai kasadaran kritis atas situasi sosial yang sedang berlangsung saat ini.
Secara sederhana posisi mahasiswa bisa kita gambarkan sebagai sosok yang berada di tengah level. Di masyarakat menjadi bagian masyarakat, di kalangan intelektual mahasiswa juga dianggap berada diantara mereka. Dengan kata lain keberadaan mereka di tengah-tengah level apapun mempunyai nilai strategis.
Disampaikan pada MAPABA 2011 dan 2013 PMII Komisariat Al-Ghozali Semarang

Rabu, 02 Oktober 2013

LEGENDA DESA MOJOLAWARAN

LEGENDA DESA MOJOLAWARAN

Letak Geografis Mojolawaran
     Adalah jalan Gabus Tlogoayu KM. 2. Mojolawaran adalah termasuk desa di Kecamatan Gabus yang mana sekecamatan Gabus ada 23 desa . Termasuk wilayah Kawedanan Kayen, Kabupaten Pati.
     Dipertengahan desa ada dua makam, yang mana makam tersebut menjadi pepunden , yaitu setiap orang yang punya hajad sering berdoa dan membaca tahlil dimakam tersebut, mohon kepada Allah agar hajadnya dikabulkan . Makam yang sebelah utara disebut makam “ Nyai Ratu” dan disampingnya ada batu besar yang disebut “ Watu Bobot” . Konon barang siapa yang bisa mengangkat batu tersebut sendirian bisa kaya.
     Makam yang sebelah selatan kumpul dengan makan desa adalah makam ”Tuan Sokolangu”, sekarang diabadikan namanya menjadi Yayasan Pendidikan ”Tuan Sokolangu”.
     Konon zaman dahulu kala ada sebuah padepokan yang terletak dibumi telon yaitu sebidang kampung tanah diperbatasan tiga desa yaitu desa Mojolawaran terletak disebelah selatan, desa Sambirejo disebelah barat laut, Sugihrejo disebelah Timur. Yang sekarang masih ada bekasnya yaitu sumur / belik yang selalu keluar sumbernya meskipun kemarau panjang.
     Di situlah ada Padepokan ( Perguruan ) yang membimbing tentang agama Islam , bela diri dan kesenian. Muridnya sangat banyak dari segala penjuru terdiri dari putra dan putri. Disitu ada keluarga yang tidak dikenal namanya, yang mempunyai anak putra dan putri yang sulung bernama : Raden Alim . Yang nomor dua Kyai Gusti  yang dimakamkan di makam   Kuryokalangan tempel, yang dulu masih termasuk desa Mojolawaran . Untuk memudahkan Geografi perbatasan adalah jalan raya Gabus Tlogoayu, yang sebelah selatan diikutkan desa Kuryokalangan, sehingga sisebut Kuryoklangan tempel (Mulai dari perbatasan Sugihrejo sampai Jetis ),
Kyai Plumbungan, Kyai Plosomalang dan yang bungsu seorang putri yang cantik yang bernama ”Dewi Lanjar Sari” dan terkenal dengan nama Siti Rohmah.
     Raden Alim bertugas mengajar dan memperdalam agama bela diri dan kesenian. Kyai Gusti, Kyai Plumbungan dan Kyai Plosomalang membantunya.
     Dewi Lanjar Sari mengajar mengaji pada putra-putri, kesenian, memasak dan lain-lain ketrampilan wanita.
     Pada suatu hari Dewi Lanjar Sari memasak entah kurang apa Ibunya marah. Dia dipukul pakai Entong ( alat untuk mengeduk nasi ) dikepalanya. Dia ngambek langsung meninggalkan rumah tanpa arah dan tujuan. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan dan seterusnya dia berjalan kaki kearah Barat Daya. Dia makan seadanya dengan membantu orang-orang yang dijumpainya dengan upah sekedar makan dan minum. Dari orang keorang lain terus melanjutkan perjalanannya. Pada suatu hari Dewi Lanjar Sari lelah sekali dan istirahat melepaskan lelah dibawah pohon.
     Konon pada suatu ketika Raja Mataram ( entah raja siapa tidak mengerti ) sedang ameng – ameng (berjalan-jalan) mengelilingi daerah kekuasaannya yang diiringi oleh pejabat-pejabat kerajaan, dayang – dayang serta para prajurit. Dengan rasa terkejut sang Prabu melihat seberkas sinar yang datang dari jauh, dan sang patih disuruh menyelidiki dan melaporkan sinar apa tersebut.
     Beberapa saat kemudian setelah sang patih menemukan apa yang menjadi sumber sinar tersebut dilaporkan pada raja bahwa sinar tersebut berasal dari putri yang cantik yang bernama : Dewi Lanjar Sari yang tidak mempunyai tempat tinggal yang berkelana tidak punya arah dan tujuan . Akhirnya sang Prabu berpendapat bahwa wanita tersebut orang yang sakti dan berketurunan orang yang berilmu tinggi. Akhirnya wanita tersebut diambil Garwo Selir oleh sang Prabu.  Sejak itu dia terkenal dengan nama : Nyai Ratu.
Di kerajaan dia memberi pelajaran menari dan ketrampilan yang lain pada wanita – wanita keluarga kerajaan. Para istri Raja dan keluarga kerajaan semuanya sayang kepadanya .
     Lain ceria, ibunya sedih karena ditinggal oleh anaknya yang disayanginya dengan berbulan-bulan, bertahun-tahun tak ada kabar berita entah masih hidup atau sudah mati. Semua anaknya dipanggil untuk menghadap ibu yang sedang susah atau sedih itu.Setelah berkumpul semua anaknya dtugasi untuk mencari dan bertemu, jangan  pulang kalau belum bertemu dan membawa pulang bersamanya. Setelah berunding empat orang anaknya tersebut membagi arah yaitu ke Barat, ke Timur, ke Utara dan ke Selatan. Karena Dewi Lanjar Sari kesenangannya hiburan yang bernama            ”Topeng Lengger” maka ke empat kakaknya tersebut mencari sambil berkesenian Topeng Lengger.
Kesenian Topeng Lengger yaitu suatu kesenian dengan alat musik Rebana, kendang, dan jidur. Yang menari memakai topeng.  Jadi satu rombongan berjumlah 5 orang, semua laki – laki , yaitu dengan tugas : 2 orang menabuh rebana, 1 orang kendang, 1 orang menabuh jidur dan seorang lagi menari memakai topeng sambil bernyanyi berupa syair yang bernafaskan agama dan budi pekerti serta cerita para  Nabi dan riwayat hidup keluarganya.
     Raden Alim kebagian kearah selatan , dan yang lain tersebar. Dengan kesenian tersebut mereka berharap dapat menjumpai adiknya, karena adiknya senang sekali kesenian tersebut.
Berhari – hari bahkan berbulan – bulan sudah berlalu, belum ada tanda-tanda untuk dapat bertemu dengan adiknya. Akhirnya Raden Alim sampai di kerajaan Mataram. Raden Alim bertugas menari dan menyanyikan syair – syair dan yang lain mengelilinginya . Ramai sekali penduduk kerajaan Mataram menontonnya , karena tontonan tersebut belum pernah dilihat di wilayah Mataram.
Akhirnya kabar itu sampai di kerajaan , dan Nyai Ratu mohon kepada Sang Prabu untuk mendatangkan kesenian tersebut di kerajaan.
Dengan rasa senang hati Raden Alim beserta rombongannya datang di kerajaan untuk memainkan keseniannya . Kerabat kerajaan dan para punggawa kerajaan semuanya duduk dibalai agung untuk menyaksikan pertunjukan yang belum pernah dilihat dengan gaya musik yang serba sederhana tapi mengagumkan apalagi penarinya yang bertopeng sambil melagukan irama syair yang berbau agama , nasehat dan riwayat hidupnya.
     Raden Alim terperanjat melihat adiknya yang bersejajar bersama – sama para garwo selir sang Prabu. Raden Alim membawakan syair yang mengisahkan cerita tentang pribadinya bersama saudara - saudaranya  sampai perginya Dewi Lanjar Sari setelah dimarahi oleh Ibunya. Para yang hadir terpesona mendengarkan cerita tersebut, bahkan Nyai Ratu menjerit dan menangis sejadi – jadinya. Setelah ditanya oleh Sang Prabu dia mengataakan bahwa itu adalah kisahnya sendiri. Akhirnya dia mengetahui bahwa yang menari itu adalah kakak kandungnya.
     Setelah bercakap – cakap untuk mengobati rindunya Raden Alim mohon kepada Sang Prabu, adiknya dibawa pulang sebentar kira – kira satu atau dua bulan . Sang Prabu mengijinkannya tapi hanya satu atau dua bulan saja. Akhirnya Raden Alim serta rombongannya dan diiringi Nyai Ratu serta para dayang – dayang pulang.
     Sampai dirumah Ibunya sudah meninggal . Satu demi satu yang bertugas datang tidak membawa hasil ( Kyai Gusti , Kyai Plumbungan, Kyai Plosomalang) .
Baru beberapa saat kurang lebih satu bulan berkumpul dengan saudaranya dan para murid – muridnya bersenang – senang karena sangat rindu kepada dewi Lanjar Sari yang sudah di kenal dengan Nyai Ratu.
Akhirnya Nyai Ratu tiba sakit dan meninggal.
Sang Prabu merasa kecewa karena sudah berbulan-bulan karena Nyai Ratu belum dikembalikan. Kemudian sang Prabu mengirimkan utusan yang diiringi beberapa prajurit  untuk menjemput  Nyai Ratu. Sampai di desa utusan diberitahu oleh Raden Alim  bahwa Nyai Ratu sudah meninggal . Dan akhirnya para utusan marah serta memukuli Raden Alim beserta murid – muridnya . Dengan susah payah Raden Alim menyadarkan tapi tidak percaya . Akhirnya timbul peperangan antara utusan dari Mataram dengan Raden Alim beserta murid – muridnya.
     Dengan kesaktian Raden Alim batu besar untuk alas kaki berwudlu di perintahkan untuk mengejar dan menanggulangi  dari kemarahan utusan dari Mataram tersebut .
     Akhirnya utusan dari Mataram mati semua karena tergilas oleh Watu Bobot tersebut , yang di mantrai oleh Raden Alim.
Maka sampai sekarang watu bobot tersebut ditempatkan disamping makam Nyai Ratu. Dan Raden Alim terkenal dengan nama TUAN SOKOLANGU,  karena dia selalu membawa tongkat yang terbuat dari kayu sokolangu. Disebut desa Mojolawaran karena benteng padepokan terdiri dari kayu Mojo yang buahnya besar – besar seperti buah jeruk yang rasanya pahit.
     Lawaran karena Tuan Sokolangu mengembalikan ( menyerang dan menangkis )kemarahan utusan Mataram tidak dengan tenaganya tapi di biarkan begitu saja hanya watu bobotlah yang menangkisnya. Pernah watu bobot untuk peper ( cewok ) orang, akibatnya badannya bengkak – bengkak dan meninggal.
Adat istiadat sampai sekarang :
1. Kalau di desa Mojolawaran ada perawan tua asal mau pergi merantau pasti mendapat jodoh .
2. Kalau sedekah bumi tidak mau di buatkan pertunjukkan yang aneh – aneh, cukup dengan tahlilan, membaca sejarah Nabi Muhammad SAW ( Berjanjean) dan solawatan .  Dan malam harinya dengan Rebana.
Konon pernah diadakan wayang kulit dalangnya meninggal mendadak disambar petir dan ada ular  besar yang menjatuhi pangkuan dalang, terus bubar.
Sumber legenda desa Mojolawaran ini dari sesupuh desa yang tertua :
  1. Mbah Mumbari
  2. Mbah Ngasngari
  3. Mbah Abu
  4. Mbah Mani Seno
  5. Mbah Surat Mentrik
Walluhu A`lam.
Kesimpulan

  1. Sejak dulu mojolawaran adalah sumber Agama Islam di Kecamatan Gabus dan sekitarnya, karena sejak itu sudah ada padepokan yang mengajar agama islam, beladiri dan kesenian. Maka sampai sekarang beladiri / pencak silat, kesenian / pesantren ada. Yaitu mengikuti jejak ” Tuan Sokolangu ”
  2. Wanita berkelana, maka sampai sekarang wanita – wanita berkelana kepenjuru dunia dan mendapat jodoh. Mengikuti jejak ” Nyai Ratu ”.
  3. Remaja putra – putri Mojolawaran hendaknya gigih menuntut ilmu agama islam, kerja keras demi suksesnya desa Mojolawaran  sebagai cita – cita pendiri desa ini.
  4. Cintailah desa kita
Source : http://mtstuansokolangu.blogspot.com/2011/05/legenda-desa-mojolawaran.html