Berusaha keras adl Penting, tapi yg lebih Penting adl Menikmati apa yg anda lakukan. Apa gunanya Anda? Nikmati setiap menit Hidup Anda!
Senin, 30 April 2012
Senin, 09 April 2012
Karena Cinta Tidak Harus Berbentuk Bunga
Cerita Dari Sebuah
Video:
Aku
mencintai suamiku karena sifatnya yang apa adanya. Aku begitu menyukai perasaan
aman dan tentram yang muncul dihati ketika bersanding denganya. Tiga tahun
dalam masa perkenalan, dua tahun dalam masa perkawinan, harus kuakui bahwa
mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumah tangga dengannya dan
alasan-alasan mencintainya dulu telah berubah menjadi suatu yang menjemukan.
Aku seorang wanita yang berjiwa sentimental dan benar-benar sensitive serta berperasaan
halus. Aku merindukan saat-saat romantis seperti anak yang menginginkan
belaian, tetapi semua itu tidak ku peroleh. Suamiku kini jauh berbeda dari apa
yang aku harapkan dulu. Rasa sensitivenya kurang dan ketidakmampuannya dalam
menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami, telah memusnahkan
semua harapan tentang kehidupan yang ideal.
Suatu
hari aku beranikan diri untuk menyatakan keputusan untuk bercerai. “Mengapa?”,
dia bertanya terkejut. “Aku lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku
inginkan”.
Dia terdiam dan termenung sepanjang
malam di depan komputernya, Nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu,
padahal tidak. Kekecewaanku semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apa lagi yang dapat aku harapkan darinya. Dan
akhirnya….. dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah
pikiranmu?”. Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan, “Aku
ada satu pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya, aku akan mengubah pikiranku:
Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada ditebing gunung. Kita
berdua tahu jika kau memanjat gunung itu kau akan mati. Apakah kau akan
melakukannya untukku?”.
Diapun termenung dan berkata, “Aku
akan memberikan jawabannya besok pagi.”
Keesokan paginya, suamiku tidak
berada di ruma, dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya
dibawah sebuah gelas yang dibawahya berisi susu hangat yang bertuliskan :……
“Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu tetepi…. Izinkan aku menjelaskan alasannya”.
Kalimat pertama ini menghancurkan
hatiku, lantas aku terus membacanya. “Sayang, kau bisa menggunakan komputer dan
selalu menghadapi masalah program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan
monitor. Aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat membantumu dan
memperbaiki programnya.”
“Kau
selalu lupa membawa kunci ketika keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku
supaya dapat menendang pintu dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.”
“Kamu
senang jalan-jalan keluar kota tetapi sering tersesat di tempat-tempat baru yang
kamu kunjungi, aku harus menunggu di rumah dan membantumu agar dapat
memberiakan mataku untuk menjelaskan jalan melalui peta.”
“Kamu
selalu kelelahan pada waktu pergi dengan teman baikmu setiap bulan, dan aku
harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir.”
“Kamu
seorang yang senang diam di rumah, dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi
“aneh” dan aku harus membelikanmu sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau
meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.”
“Kamu
selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik unuk kesehatan
matamu. Aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat
memotong kukumu dan mencabuti ubanmu.”
“Tangan
akan memegang tanganmu, membimbingmu menyusuri pantai, menikmati matahari pagi
dan pasir yang indah, menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah
seperti cantiknya wajahmu.”
“Tetapi
sayangku…….. , Aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, aku tidak
sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.”
“Sayangku…..
Aku tahu… diluar sana ada banyak orang yang mampu mencintai lebih dari aku
mencintaimu. Untuk itu sayangku, jika semua yang telah kuberikan dengan
tanganku, kakiku, mataku tidak cukup bagimu, aku tidak akan menahan dirimu
mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”
Air mataku jatuh diatas tulisan dan
membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membaca
selanjutya, “Dan sekarang sayangku kamu telah selesai membaca jawabanku, jika
kau berpuas hati dengan jawaban ini dan tetap mnginginkanku untuk tinggal di
rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri di luar
pintu menunggu jawabanmu. Tetapi jika kamu tidak puas, sayangku….. biarkan aku
masuk untuk mengambil barang-barangku, aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi.
Percayalah…… kebahagianku adalah kau bahagia.”
Aku segera berlari mmbuka pintu
dan….. melihatnya didepan pintu dengan wajah sendu sambil tangan memegang susu
dan roti kesukaanku.
Oh Tuhan…… kini baru aku yahu….
Tidak ada oaring lain yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku.
Sumber :
Renungan Cinta Bagi Umahat (MASTER)
Langganan:
Komentar (Atom)